RAGAM BAHASA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kalimantan Barat. Dalam dua hari terakhir, sedikitnya enam penerbangan mengalami keterlambatan.
Gangguan tersebut terjadi akibat jarak pandang atau visibility yang menurun hingga berada di bawah batas standar keselamatan penerbangan. Kondisi paling terasa pada jadwal penerbangan pagi hari.
General Manager Bandara Internasional Supadio Pontianak, Dwi Ananda, mengatakan pihak bandara terus melakukan pemantauan terhadap kondisi jarak pandang untuk memastikan keselamatan penerbangan.
“Untuk kondisi visibility memang ada penurunan pada pagi hari. Kami terus berkoordinasi dengan pihak maskapai dan AirNav Indonesia terkait kondisi ini,” ujar Dwi.
Menurutnya, keterlambatan penerbangan dilakukan sebagai langkah antisipasi ketika kondisi cuaca dan jarak pandang belum memenuhi persyaratan untuk penerbangan.
Dwi menjelaskan, keselamatan penumpang dan awak pesawat menjadi prioritas utama. Karena itu, keputusan terkait keberangkatan maupun penundaan penerbangan akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
“Kami tetap mengutamakan aspek keselamatan. Jika kondisi belum memungkinkan, penerbangan akan menyesuaikan dengan standar operasional yang berlaku,” katanya.
Sementara itu, pihak bandara mengimbau calon penumpang untuk terus memantau informasi penerbangan dari maskapai masing-masing. Penumpang juga diminta datang lebih awal ke bandara guna mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal akibat kondisi kabut asap.
Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat diketahui berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu jarak pandang, khususnya pada pagi hari, sehingga berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Supadio.
(FIKRI)
