Sukabumi – Sejarah mengenai sosok Putri Mayangsagara atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Putri Nelayan perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dalam catatan sejarah, Putri Mayangsagara tidak pernah menikah dan tidak memiliki pendamping seorang raja maupun pangeran.
Sepeninggal ayahnya, Raden Bagus Kumbang Setra yang merupakan pemimpin wilayah saat itu, Putri Mayangsagara melanjutkan kepemimpinan di wilayah Kapuunan, yang kini dikenal sebagai Palabuhanratu.
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Putri Mayangsagara tidak memimpin seorang diri. Ia didampingi oleh ibundanya, Nyai Purnamasari, serta mendapat dukungan dari Mahapatih Rakean Kalang Sunda yang bertugas membantu penyelenggaraan pemerintahan dan menjaga stabilitas wilayah.
Perlu ditegaskan bahwa sosok yang mendampingi Putri Mayangsagara bukanlah seorang raja, pangeran, ataupun suami. Pendamping yang dimaksud dalam sejarah adalah Mahapatih Rakean Kalang Sunda, seorang pejabat tinggi kerajaan yang memiliki peran penting dalam membantu pemimpin menjalankan pemerintahan.
Dengan demikian, narasi yang menyebut Putri Mayangsagara didampingi oleh seorang pangeran atau raja tidak sesuai dengan sejarah. Putri Mayangsagara tetap dikenang sebagai pemimpin yang meneruskan kepemimpinan wilayah Kapuunan bersama ibundanya, Nyai Purnamasari, dengan dukungan Mahapatih Rakean Kalang Sunda hingga wilayah tersebut berkembang menjadi kawasan yang kini dikenal sebagai Palabuhanratu.
