Sukabumi – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi memaknai bulan suci Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga sebagai ruang strategis untuk memperkuat pembentukan karakter peserta didik. Melalui instruksi resmi, seluruh satuan pendidikan diminta menyesuaikan orientasi pembelajaran dengan menitikberatkan pada penguatan spiritualitas serta kesalehan sosial.
Kebijakan tersebut mendorong sekolah untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik di ruang kelas, melainkan juga menghadirkan berbagai kegiatan yang mampu menanamkan nilai-nilai religius secara nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menegaskan bahwa selama Ramadan sekolah tidak diperkenankan membiarkan waktu belajar berjalan tanpa arah. Oleh karena itu, setiap sekolah diwajibkan merancang agenda kegiatan keagamaan yang terstruktur dan terukur.
“Sekolah diwajibkan menyusun jadwal kegiatan seperti Pesantren Kilat (Sanlat), tadarus Al-Qur’an pada pagi hari, salat dhuha berjamaah, hingga kegiatan bakti sosial,” ujar Deden, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana internalisasi nilai-nilai Ramadan dalam lingkungan pendidikan. Kegiatan bakti sosial, misalnya, diarahkan agar siswa tidak hanya memahami konsep empati secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara langsung di tengah masyarakat.
Selain itu, Dinas Pendidikan juga melakukan penyesuaian teknis terhadap Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) guna menyesuaikan kondisi fisik siswa yang menjalankan ibadah puasa. Perubahan pola aktivitas dan waktu istirahat selama Ramadan menjadi pertimbangan dalam kebijakan tersebut.
Salah satu penyesuaian yang diterapkan adalah pengunduran jam masuk sekolah, di mana aktivitas belajar paling awal dimulai pada pukul 08.00 WIB. Selain itu, durasi jam pelajaran juga dipersingkat minimal 10 menit dari jadwal normal. Jika sebelumnya satu jam pelajaran berlangsung 45 menit, selama Ramadan menjadi sekitar 35 menit.
“Kebijakan ini mempertimbangkan siklus tidur siswa yang berubah. Kami ingin menciptakan keseimbangan antara kewajiban akademik dan fokus ibadah,” tambahnya.
Deden berharap melalui pelaksanaan pesantren kilat dan kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan di setiap sekolah, satuan pendidikan dapat berperan sebagai ruang pembentukan karakter bagi peserta didik.
Ia menegaskan bahwa hasil pendidikan yang diharapkan tidak hanya tercermin dari capaian akademik, tetapi juga dari perubahan perilaku serta penguatan nilai keimanan para siswa.
Melalui kebijakan tersebut, Disdik Kabupaten Sukabumi kembali menegaskan komitmennya bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembangunan nilai religius sebagai fondasi penting dalam pengembangan sumber daya manusia di daerah. (adv)
