RAGAM BAHASA-Keterlibatan ratusan mahasiswa dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam proses produksi film Setan Alas menjadi contoh nyata kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri kreatif. Partisipasi para pelajar tersebut tidak hanya memberi pengalaman langsung di dunia perfilman, tetapi juga membuka peluang pengembangan keterampilan praktis di luar ruang kelas.

Koordinator produksi film Setan Alas, Raka Pratama, mengatakan keterlibatan mahasiswa dan siswa SMK dilakukan sejak tahap praproduksi hingga proses pengambilan gambar di lapangan. Menurutnya, para pelajar diberikan kesempatan untuk memahami berbagai aspek produksi film.

“Mahasiswa dan siswa SMK kami libatkan dalam berbagai departemen, mulai dari artistik, kamera, hingga manajemen produksi. Ini menjadi kesempatan belajar langsung yang tidak mereka dapatkan hanya dari teori,” kata Raka dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, kehadiran para pelajar tersebut juga membantu memperkuat proses produksi film, karena mereka datang dengan semangat belajar yang tinggi.

Sementara itu, dosen komunikasi dan perfilman dari salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur, Dwi Kartika Sari, menilai keterlibatan pelajar dalam produksi film merupakan metode pembelajaran yang efektif. Menurutnya, praktik langsung di industri akan memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai proses kreatif sekaligus tantangan di lapangan.

“Kolaborasi seperti ini penting karena mahasiswa bisa melihat secara nyata bagaimana industri kreatif bekerja. Mereka belajar disiplin, kerja tim, dan problem solving dalam situasi produksi yang sebenarnya,” ujar Dwi.

Hal senada disampaikan Kepala SMK Negeri bidang multimedia, Budi Santoso. Ia menyebut keterlibatan siswa dalam proyek film memberi motivasi baru bagi para pelajar untuk menekuni bidang kreatif.

“Bagi siswa kami, ini pengalaman yang sangat berharga. Mereka bisa belajar langsung dari para profesional di industri film, sekaligus membangun portofolio sejak masih sekolah,” katanya.

Melalui kolaborasi tersebut, produksi film Setan Alas tidak hanya menghasilkan karya sinematik, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi generasi muda yang tertarik menekuni dunia industri kreatif di masa depan.

(FIKRI)