RAGAM BAHASA – Kemenyan yang selama ini kerap dikaitkan dengan tradisi dan hal-hal berbau mistis kini mendapat wajah baru melalui riset yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lembaga tersebut berhasil mengembangkan minyak asiri dari kemenyan berkualitas tinggi yang memiliki potensi besar sebagai bahan baku parfum premium hingga produk aromaterapi.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi, menjelaskan bahwa aroma minyak asiri kemenyan sangat berbeda dengan bau resin kemenyan yang umum dibakar. Menurutnya, minyak hasil pemurnian memiliki karakter aroma amber yang lembut, hangat, dan elegan sehingga cocok dijadikan komponen utama dalam industri parfum.
Ia juga menepis anggapan bahwa pohon atau hutan kemenyan memiliki aroma yang identik dengan kesan menyeramkan. Menurutnya, aroma khas tersebut justru muncul setelah proses tertentu, sedangkan di habitat alaminya tidak ditemukan bau seperti yang selama ini dipersepsikan masyarakat.
Dalam pengembangan parfum, BRIN memadukan minyak asiri kemenyan dengan berbagai minyak atsiri unggulan Indonesia, seperti nilam (patchouli), kenanga, melati, hingga ekstrak jeruk. Perpaduan tersebut menghasilkan komposisi aroma yang lebih kompleks, mewah, sekaligus memiliki identitas khas Indonesia.
Keunggulan lain dari kemenyan Indonesia terletak pada kandungan senyawa alaminya. Beberapa komponen fitokimia seperti cinnamein, benzyl benzoate, dan vanillin menjadi nilai tambah yang diyakini mampu meningkatkan daya saing produk parfum nasional di pasar internasional.
Di sisi lain, Indonesia masih lebih banyak mengekspor resin kemenyan dalam bentuk bahan mentah dengan volume sekitar 5.000 hingga 6.000 ton setiap tahun ke puluhan negara. Ironisnya, sebagian bahan tersebut kemudian diolah di luar negeri menjadi parfum maupun kosmetik bernilai tinggi yang kembali masuk ke pasar Indonesia sebagai produk impor.
Selain dimanfaatkan sebagai bahan parfum, minyak asiri kemenyan juga dinilai memiliki prospek sebagai bahan aromaterapi. Produk ini dipercaya dapat memberikan efek relaksasi, membantu meningkatkan konsentrasi, serta berpotensi mendukung perawatan kesehatan kulit.
BRIN pun mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memanfaatkan teknologi pemurnian beserta paten yang telah dikembangkan. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan lahir lebih banyak produk parfum dan aromaterapi berbahan baku lokal yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis sumber daya alam dalam negeri.
(Egol)
