SUKABUMI – Sebanyak 92 pelajar MTs Bumi Persada di Kampung Sodong, Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas terbatas setelah salah satu ruang kelas ambruk pada Senin, 14 September 2026, sekitar pukul 10.30 WIB.
Peristiwa tersebut sempat mengejutkan guru dan siswa yang berada di lingkungan sekolah. Beruntung, tidak ada korban jiwa karena saat kejadian para pelajar sedang beristirahat di lapangan upacara dan tidak berada di dalam kelas.
Kepala MTs Bumi Persada, Dadan, mengaku bersyukur kejadian itu tidak menimbulkan korban. Namun, ia mengkhawatirkan kondisi bangunan sekolah yang sebagian besar sudah mengalami kerusakan berat.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Anak-anak sedang istirahat, berada di lapangan upacara dan belum masuk lagi ke kelas,” kata Dadan kepada Sukabumiupdate.com.
Menurut Dadan, sedikitnya delapan ruangan di lingkungan sekolah membutuhkan rehabilitasi karena mengalami kerusakan berat. Dari jumlah tersebut, empat ruangan dilaporkan telah ambruk, termasuk ruang kelas yang roboh pada Senin, 14 September 2026.
Kerusakan juga terjadi pada ruang kepala sekolah. Sebelumnya, ruang kelas yang digunakan siswa kelas 9 telah lebih dahulu ambruk sekitar Juli hingga Agustus 2026.
Belajar Bergiliran di Musala hingga Laboratorium
Kondisi bangunan yang rusak membuat pihak sekolah harus mengatur ulang penggunaan ruangan agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Para siswa kini terpaksa belajar secara bergiliran di sejumlah fasilitas yang masih dapat digunakan.
Siswa kelas 7 menempati musala sekolah, sedangkan siswa kelas 8 menggunakan laboratorium. Sementara itu, siswa kelas 9 harus menumpang di ruang belajar Madrasah Aliyah (MA) Bumi Persada.
Situasi tersebut semakin sulit karena MA Bumi Persada hanya memiliki tiga ruang belajar yang digunakan oleh siswa kelas 10, 11, dan 12. Akibatnya, ruangan yang tersedia harus digunakan secara bergantian oleh para siswa MTs.
“MA juga hanya punya tiga ruang, untuk kelas 10, 11 dan 12. Jadi yang ada terpaksa dipakai bergantian oleh kelas 9, karena bingung harus menggunakan ruangan yang mana lagi,” tutur Dadan.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi siswa MTs maupun MA yang harus belajar dengan keterbatasan fasilitas. Bahkan, musala berukuran sekitar 3 x 4 meter terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang belajar.
“Kasihan juga anak-anak Aliyah, siswa dan siswinya. Mereka belajar di ruangan sempit. Musala ukuran sekitar 3 x 4 meter juga digunakan untuk belajar, termasuk kelas 12,” katanya.
Khawatir Kondisi Bangunan Saat Musim Hujan
Selain keterbatasan ruang belajar, Dadan juga mengkhawatirkan keselamatan siswa ketika musim hujan tiba. Menurutnya, sejumlah ruangan yang masih dapat digunakan saat cuaca kering belum tentu aman apabila hujan mulai turun.
“Kalau musim hujan sudah tidak bisa ditempati. Kalau musim kemarau, dari empat ruang yang tersisa masih bisa digunakan seperti sekarang. Cuma saya sudah bingung nanti kalau musim hujan. Saya sudah takut dari sekarang,” ungkapnya.
Kekhawatiran tersebut muncul karena sekolah masih harus memanfaatkan ruangan yang tersisa untuk mempertahankan kegiatan belajar mengajar. Dengan kondisi bangunan yang mengalami kerusakan berat, kebutuhan akan penanganan dan rehabilitasi menjadi semakin mendesak.
Tetap Berjuang Memberikan Akses Pendidikan
Di tengah keterbatasan fasilitas, Dadan menegaskan bahwa keberadaan MTs Bumi Persada selama ini berorientasi pada upaya memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Ia mengatakan, jumlah siswa sekolah tersebut saat ini sekitar 92 orang. Menurutnya, kesempatan untuk bersekolah dan memperoleh ijazah menjadi hal penting bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Saya dari awal lebih memilih menolong orang yang tidak mampu daripada mereka tidak sekolah. Daripada anak-anak tidak punya ijazah,” ujarnya.
Dadan menambahkan, kebutuhan pendidikan saat ini semakin panjang sehingga anak-anak perlu mendapatkan kesempatan melanjutkan sekolah hingga jenjang men
