SUKABUMI – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sukabumi mengajukan permohonan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) agar pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Sekolah Dasar (SD) bagi peserta yang terdampak pemadaman listrik dapat dijadwalkan ulang.
Usulan tersebut disampaikan setelah puluhan peserta di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi mengalami kendala saat mengikuti ujian berbasis digital akibat terhentinya pasokan listrik ketika pelaksanaan OSN berlangsung.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, mengatakan pihaknya telah mengambil langkah cepat dengan menyampaikan permohonan resmi kepada Kemendikdasmen melalui Puspresnas agar peserta yang terdampak memperoleh kesempatan mengikuti kembali ujian.
“Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi hari ini sudah melakukan langkah dengan mengajukan permohonan kepada pihak kementerian melalui Puspresnas agar pelaksanaan OSN bagi peserta yang terdampak dapat diulang,” ujar Deden, Jumat (12/6/2026).
Menurut Deden, dari total 3.009 peserta OSN tingkat SD di Kabupaten Sukabumi, sekitar 79 peserta mengalami gangguan akibat pemadaman listrik. Para peserta tersebut berasal dari sejumlah kecamatan, di antaranya Cireunghas, Nyalindung, Sukaraja, Cisolok, Sukalarang, Gegerbitung, dan Kebonpedes.
“Kurang lebih 79 peserta terdampak karena saat pelaksanaan ujian terjadi gangguan listrik di beberapa wilayah,” katanya.
Berdasarkan hasil koordinasi dengan PT PLN, pemadaman terjadi karena adanya kegiatan pemeliharaan jaringan dan penyetabilan sistem kelistrikan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian peserta tidak dapat menyelesaikan ujian sesuai waktu yang telah ditentukan.
“Setelah dikomunikasikan dengan pihak PLN, ternyata memang ada program pemeliharaan dan penyetabilan arus listrik di wilayah tersebut yang sudah terjadwal,” jelas Deden.
Ia menambahkan, berdasarkan laporan dari sekolah, gangguan listrik terjadi ketika waktu ujian hampir berakhir. Pada sesi ketiga pelaksanaan OSN, sebagian peserta hanya memiliki sisa waktu sekitar 15 menit sebelum sistem ujian terganggu akibat padamnya aliran listrik.
“Mereka sangat berharap bisa mengikuti ujian ulang. Informasi dari kepala sekolah menyebutkan bahwa listrik padam ketika waktu ujian tinggal sekitar 15 menit lagi pada sesi ketiga,” ungkapnya.
Saat ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi masih menunggu keputusan dari Kemendikdasmen dan Puspresnas terkait permohonan tersebut. Meski demikian, pihaknya berharap peserta yang terdampak memperoleh kesempatan yang sama untuk menyelesaikan kompetisi secara adil.
“Pada prinsipnya kami sudah berikhtiar mengajukan permohonan agar pelaksanaan OSN bagi peserta yang terdampak dapat diulang,” tegas Deden.
Selain mengusulkan pelaksanaan ujian ulang, Dinas Pendidikan juga mendorong setiap sekolah untuk mulai menyiapkan sumber energi cadangan sebagai langkah antisipasi menghadapi gangguan listrik, terutama saat pelaksanaan ujian berbasis komputer maupun kegiatan pembelajaran digital.
Menurut Deden, kebutuhan akan pasokan listrik yang stabil menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam proses pendidikan. Karena itu, sekolah-sekolah, khususnya yang berada di wilayah rawan gangguan listrik, perlu memiliki sistem pendukung agar kegiatan belajar tidak terganggu.
“Ke depan kami mendorong sekolah memiliki energi cadangan. Tidak hanya untuk pelaksanaan OSN, tetapi juga untuk mendukung kegiatan pembelajaran berbasis digital, terutama di wilayah yang sering mengalami gangguan listrik,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi sebenarnya telah mulai mengembangkan penggunaan energi alternatif melalui pemasangan panel surya di sejumlah sekolah. Namun, program tersebut masih dilakukan secara bertahap dan belum menjangkau seluruh wilayah, terutama daerah selatan yang kerap terdampak gangguan listrik akibat faktor alam maupun bencana.
Melalui langkah tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi berharap seluruh peserta didik dapat memperoleh kesempatan yang setara dalam mengikuti kompetisi akademik. Di sisi lain, penguatan infrastruktur pendidikan, termasuk penyediaan energi cadangan, diharapkan mampu mendukung pelaksanaan pembelajaran dan berbagai kegiatan berbasis digital secara lebih optimal di masa mendatang.
